Bahaya Mikroplastik dalam Tubuh Manusia dan Lingkungan Menurut Riset Ecoton

0
Bahaya Microplastik
Bahaya Microplastik Bagi Manusia dan Lingkungan

Lindungi.com – Dalam kehidupan saat ini, manusia memang sulit untuk menghindari plastik. Banyak peralatan rumah tangga dan kebutuhan-kebutuhan lainnya yang menggunakan plastik sebagai bahan utamanya. Ketergantungan tersebut mengakibatkan pencemaran lingkungan yang tanpa disadari telah merusak ekosistem. Selain merusak ekosistem di dalam plastik juga mengandung Bahaya Mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh manusia.

Untuk mengedukasi masyarakat terkait Bahaya Mikroplastik, Ecoton membedah bahaya mikroplastik di laboratoriumnya, Wringinanom, Gresik, yang disiarakan secara langsung melalui aplikasi Instagram @ecoton.id, (06/5).

Ilustrasi Bahaya Microplastik
Ilustrasi Bahaya Mickroplastik (Trubus.id)

Dalam siaran langsung tersebut peneliti senior Ecoton, Andreas Agus Kristanto Nugroho menjelaskan ada dua jenis mikro plastik, yakni jenis primer dan sekunder.

Baca juga : Dana Lingkungan Tak Lagi Tercecer, Pemerintah Bentuk Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup

Jenis primer adalah mikroplastik yang sengaja dibentuk untuk melengkapi produk-produk industri seperti bahan scrub, lulur, pencuci muka dan lain sebagainya. Adapun yang jenis sekunder adalah hasil degradasi jenis plastik yang bentuknya lebih besar (makro) seperti dari kantong plastik sekali pakai, gelas minuman kemasan, dan peralatan lain dari plastik yang telah mengurai menjadi lebih kecil karena proses alam.

“Mikro plastik memang tidak bisa dilihat secara nyata, butuh alat mikroskop untuk melihatnya,” jelas Andreas.

Karena bentuknya yang kecil itu tanpa disadari akan mencemari lingkungan seperti sungai, sumur, dan makhluk-makhluk lain apabila tidak secara bijak menggunakan peralatan-peralatan yang berbahan plastik.

Di samping itu, ahli kimia Ecoton, Eka Chlara Budiarti memaparkan sifat dari mikro plastik. Ia memiliki keterikatan oval terhadap sesama jenisnya dan mudah bermigrasi terhadap senyawa di sekelilingnya. Seperti contoh, minuman kemasan dari bahan plastik selalu diberi keterangan masa expired. Keterangan tersebut tidak ditujukan pada airnya, tetapi pada bahan kemasannya.

“Dalam penelitian saya, jenis minuman yang menggunakan kemasan berbahan plastik, mikro plastik yang terkandung dalam kemasan akan bermigrasi dan terakulasi ke dalam air sesuai dengan para meter suhu dan masanya. Maka cukup berbahaya apabila minuman tersebut masuk dalam tubuh manusia,” ungkap Chlara.

Baca juga : Kesal Banyak Sampah Plastik di Laut, Siti Badriah Ajak Masyarakat Bijak Gunakan Kresek

Andreas menambahkan, penggunaan mikro plastik dalam produk-produk industri seperti kosmetik dan sejenisnya, disebabkan karena mikro plastik itu memiliki keterikatan yang terbuka. Ia akan mengikat apa saja yang ada di sekelilingnya, seperti kotoran dan debu.

Namun bahayanya kalau mikro plastik ini berada di alam seperti sungai, laut, maupun sumur. Ia akan mengikat apa saja ke dalamnya seperti pestisida, logam, dan zat-zat berbahaya lain. Tanpa disadari mikro plastik tersebut masuk ke dalam tubuh melalui air, ikan, dan tumbuh-tumbuhan lain yang kita konsumsi.

“Mikro plastik sebenarnya bisa larut ke dalam feses, namun bahan-bahan yang mengikatnya seperti logam dan zat-zat lain bisa saja tertinggal di dalam tubuh, dan nantinya akan menimbulkan penyakit,” kata Andreas.

Dari penelitiannya di Ecoton terhadap ikan yang terdapat di Kali Surabaya, 80% dari 133 sample ikan sudah mengandung mikro plastik. Sebagian besar ikan yang diteliti adalah jenis herbivora. Plastik dalam saluran pencernaan ikan itu diidentifikasi karena tanaman-tanaman air yang dikonsumsinya sudah banyak mengandung mikro plastik.

Untuk mengatasi hal tersebut, Chlara memperingatkan agar kita semua lebih peduli lagi terhadap lingkungan dengan cara mengurangi penggunaan plastik. Mengganti alat-alat rumah tangga dengan bahan-bahan lain yang lebih ramah terhadap lingkungan seperti kaca, kayu, maupun silikon.

Di samping itu Andreas juga berpesan, agar manusia mau sedikit merasa tidak nyaman. Karena masalah manusia itu dimulai dari kenyamanan. Oleh karena itu mulai sekarang manusia mau merasa tidak nyaman tidak menggunakan plastik. Hingga akhirnya ketidaknyamanan tersebut menjadi bentuk kenyamanan.

Penulis : Nuri Farikhatin/Lindungi.com