Hidup Minim Sampah, Rumah Tangga Lisa Namuri & Faqih

0
Hidup Minim Sampah, Rumah Tangga Lisa Namuri dan Faqih
Hidup Minim Sampah, Rumah Tangga Lisa Namuri dan Faqih (Instagram: @Lisanamuri)

Lindungi.com – Setiap hari manusia selalu diliputi oleh sampah. Sayangnya beberapa orang tidak peduli dengan sampah-sampah yang meraka hasilkan. Terlebih sampah-sampah yang membahayakan yang tidak bisa terurai hingga ratusan tahun. Bagaimana dengan hidup minim sampah?

Sebagian besar sampah-sampah rumah tangga diserahkan kepada TPA. Tetapi kita tidak pernah tahu bagaimana sampah-sampah tersebut diperlakukan. Apakah diolah dengan baik atau hanya sekedar ditimbun dalam satu tempat yang nanti akhirnya dapat mencemari ekosistem.

Atas kehawatiran tersebut Praktisi Rumah Minim Sampah, Ahmad Faqih dan Lisa Namuri membagi pengalamannya dalam mengelola sampah secara pribadi dari sampah-sampah yang mereka hasilkan setiap hari alias hidup minim sampah

Dalam keterangannya di live aplikasi Instagram melalui akun @wastehub.id, yang dipandu Founder Waste Solution Hub, Ranitya Nurlita (14/04/2020). ia merasa turut prihatin dengan kondisi lingkungan yang saat ini dihadapinya. Banyak berita yang mengabarkan bahwa sampah-sampah plastik yang tidak diperlakukan dengan baik oleh manusia telah mencemari bumi. Banyak hewan yang mati akibat sampah-sampah tersebut.

Baca juga : KOPHI Gaet Para Pemuda untuk Lestarikan Lingkungan

Sebelumnya Faqih dan Lisa juga menceritakan sebagai sepasang suami istri mereka tidak terlalu mempedulikan sampah-sampah yang mereka hasilkan dari dalam rumahnya. Mereka menyerahkan sampah-sampah rumah tangga pada petugas sampah begitu saja.

“Tapi kan kita tidak tahu sebenarnya sampah-sampah itu diperlakukan dengan baik atau tidak, kalau engga kan bisa membahayakan,” kata Lisa.

Hidup Minim Sampah, Rumah Tangga Lisa Namuri dan Faqih
Hidup Minim Sampah, Rumah Tangga Lisa Namuri dan Faqih (Instagram: @Lisanamuri)

Faqih menambahkan dalam sampah itu ada pahala jariyah dan dosa jariyah. Jangan sampai akibat dari sampah yang kita buang dan tidak diperlakukan dengan baik menjadi dosa jariyah karena membahayakan bagi ekosistem lain seperti hewan dan tumbuhan.

“Menggunakan kemasan sekali pakai memang mudah, tetapi sebagai makhluk yang diberi akal kita dapat mengendalikan diri untuk meminimalisir itu,” ungkap Lisa.

Baca juga : Heran Dengan Banyaknya Sampah di Pantai Ancol, Chacha Frederica : Siapa Yang Tanggung Jawab?

Baca juga : Suka Urusin Sampah, Tasya Kamila dapat Dukungan dari Sang Suami

Atas kesadaran itu, keduanya pun memulai mengolah sampah-sampah rumah tangganya secara pribadi. Sampah-sampah tersebut mereka bagi menjadi dua jenis, yakni sampah organik dan an organik. Kedua jenis tersebut mereka klasifikasi lagi menjadi beberapa bagian yang nantinya diolah secara terpisah. Ada yang dimasukkan ke dalam biopori atau diolah menjadi kompos.

“Awalnya memang sulit, tapi itulah tanggung jawab kita,” terang Lisa.

Ia menceritakan kalau membentuk rumah minim sampah itu seperti seseorang yang melakukan hijrah. “Sekali nyemplung ya nyemplung, kita juga sekarang membiasakan kemana-mana membawa tumbler, kotak makan, serta kantong belanja sendiri untuk meminimalisir penggunaan plastik.

Terakhir mereka berpesan bahwa permasalahan sampah adalah permasalahan bersama yang harus mulai dipikirkan. Jangan sampai sampai yang kita anggap sepele membuat kita menjadi menzalimi bumi dan ekosistem lainnya. “Sampahku adalah tanggung jawabku,” ungkapnya.

Penulis : Nuri Farikhatin