Webinar Lindungi Institute

Hamid Arrum Harahap (Perwakilan Indonesia di UN Youth Climate Summit 2019

Pertanyaan Pertama (Fitria_UIN Sunan Gunung Djati Bandung)Ada berapa poin yang dibahas di konferensi tersebut?

Apa yg disampaikan Ka Arum dalam UN YCS 2019 sebagai point penting?

Jawab:

Dari metode NCS sendiri, Indonesia sudah menggunakan solusi apa saja? Karena disampaikan belum mampu mempraktikan semua solusi. Lalu sebagai contoh, negara mana yg sudah mempraktikan NCS dengan baik dan berapa persen kontribusinya untuk dunia?

Konfrensi Pemuda untuk Perubahan iklim berlangsung selama dua hari. Hari ketiga adalah konfrensi pemimpin dunia untuk perubahan iklim. Selama konfrensi, ada beberapa hal yang kita bahas untuk memitigasi perubahan iklim seperti transisi energi, solusi berbasis alam, tech solution, dan enterpteneur solutions. Untuk pembicara sendiri kebetulan bergerak dari isu alam dan biodiversity.

Indonesia telah meluncurkan Low Carbon Development Initiative (LCDI). Sebuah inisiatif yang berjalan seiring dengan keuntungan ekonomi dan sosial, ungkap Jusuf Kalla. Indonesia telah mengintensifkan aksi iklimnya. Yakni melalui Solusi Berbasis Alam, dengan merestorasi 2 juta hektare lahan gambut dan merehabilitasi 12 juta hektare lahan kritis pada tahun 2030 dan melestarikan secara intensif daerah bakau dan daerah pesisir. Salah satu contoh negara yang sudah melakukan solusi berbasis alam dengan baik adalah Costarica. Kostarika yang memiliki hutan tropis hanya seluas 2,6 juta hektar. Namun, mampu mengelola hutannya menjadi agrowisata, sehingga bisa mendatangkan 2,34 juta wisatawan untuk menyaksikan hutan tropis mereka dan menghasilkan devisa buat negaranya sebesar 2,4 miliar dollar AS di tahun 2012. Pemerintah Kostarika menggandeng lembaga konservasi alam untuk wisata, Finofifo yang kemudian melakukan kontrak dengan masyarakat yang tinggal di sekitar Kawasan hutan untuk melakukan konservasi, reforestasi, dan pengelolaan atas hutannya. Sumber dana dihasilkan dari prosentase bagi hasil minyak bumi, bantuan relawan (voluntary fund), serta bantuan luar negeri. Kalau untuk kontribusinya pembicara belum ada data, jadi belum bisa paparkan.Pembicara dan delegasi solusi berbasis alam (kebetulan kita dibawah UNESCO) meminta agar pemimpin dunia mengikuti isi perjajian Paris tahun 2015. Kita juga meminta aksi nyata pemerintah untuk menjaga hutan tropis. Juga kita ingin di Indonesia dan beberapa negara lainnya menambah jumlah cagar biosfer. Dengan diberikannya status cagar biosfer, maka harapan untuk mengurangi deforestasi pun bisa semakin kecil. Kita juga meminta agar pemerintah menekan kepunahan spesies dengan mengadopsi kebijakan-kebijakan yang pro lingkungan. Data dan solusi sudah ada dari ilmuwan. Yang kita perlukan hanyalah bersuara, agar pemerintah mengikuti solusi ilmuwan untuk keberlanjutan.

Pertanyaan Kedua (Hendrik Kurniawan Yusuf_ODOJ DPA LEBAK)

Bagaimana cara menumbuhkan hutan hujan di perumahan yang jarang sekali terlihat tanah. Maksudnya sudah tertutup semua oleh aspal atau semen. Sementara polusi sangat menjadi masalah udara?

Jawab:
Kalau untuk buat hutan hijau di daerah yang penuh semen pembicara kurang tahu. Tapi kemarin di New York sempat mengunjungi bangunan ford foundation yang didalamnya ada pohon-pohon tumbuh. Tapi tentu itu butuh teknologi dan biaya yang mahal. Pembicara mengusulkan untuk mencari tahu tentang konsep vertikal garden. Vertikal garden mungkin tidak sepenuhnya jadi hutan. Tapi kalau semua orang membangun vertikal garden di rumahnya masing-masing tentu bisa menyerap karbon, semakin banyak semakin besar. Nah aksi kolektif begini, kalau dilakukan ramai-ramai bisa jadi hutan bangunan. Meski demikian, tidak semua pohon hutan bisa tumbuh di kota, makanya kita perlu menjaga hutan yang benar-benar asli hutan. Tapi membuat hutan/tanaman kota tentu bisa jadi aksi nyata kita.

Pertanyaan Ketiga (Reka Sulistiya, Bogor. MA Arrahmaniyah)

Bagaimana awalnya pembicara terpilih menjadi delegasi dari Indonesia di UN, apakah dengan cara bergabung dengan sebuah organisasi?

Jawab:

Tahun 2017, pembicara terpilih untuk mengikuti pelatihan Youth Leadership Climate Change dari UNESCO. Setelah pelatihan tersebut, pembicara mulai tertarik sama issu perubahan iklim khususnya solusi berbasis alam. pembicara kemudian kerja dengan lembaga konservasi utk perlindungan orangutan. Kemudian aktif memberikan edukasi kepada anak sekolah dan pemuda terkait perubahan iklim dan konservasi. Kebetulan waktu itu dapat email dari UNESCO, mereka menjaring anak-anak muda di Indonesia yang aktif di issu ini. Nama pembicara muncul, dan kita email-email an. Pembicara sempat kirim motivation letter untuk mengikuti kegiatan ini. Dan akhirnya terpilih untuk menjadi perwalikan Indonesia ke KTT PBB.

Pertanyaan keempat (Alifia_UIN Malang)

Sejauh ini, peran pemerintah kurang massive dalam menghadapi climate change. Bahkan lahan yang dialihfungsikan menjadi kelapa sawit tidak terlepas dari campur tangan pemerintah. Dalam hal pemerintah yang tidak berpihak pada alam, apa yang bisa dilakukan masyarakat melakukan gerakan yang massive?

Jawab:

Iya benar sekali ya. Simpelnya sih mari kita sadarkan pemerintah! Tapi tentu enggak semudah itu. Jadi, ada yang namanya individual action dan collective action. Untuk pertanyaan alifia menurut pembicara, kita perlu melakukan collective action (aksi bersama). Sekarang kita bisa mengikuti berbagai gerakan untuk mengubah arah kebijakan pemerintah. Mungkin terlihat sepele, tapi satu suara kita adalah satu pukulan utk pemerintah. Di Indonesia banyak sekali gerakan, tapi biasanya memang terfokus pada lokal. Misal gerakan suku samin di jawa timur. Saat ini pemerintah sedang bercita-cita untuk meningkatkan ekonomi kita melalui industrialisasi yang dalam praktiknya sering melukai alam dan hutan kita. Nah yang bisa dilakukan adalah, dalami dunia konservasi, kita belum terlalu jauh melangkah dari alam. Mungkin di dunia yang dinamis dan modern ini sudah banyak yang lepas dari alam, tapi tentu Indonesia belum sejauh itu.

Mari kembali lagi. (i) konservasi lokal/tradisional
kalau kamu kebetulan tinggal di malang/jawa atau daerah yang kebetulan punya filosopi dari alam, tolong dalami dan hidupkan kembali. Karena semakin kuat ikatan kita dengan alam, maka semakin besar peluang kita menjaga nya. Contoh, disini di daerah minangkabau, orang minang punya filosofi “alam takambang jadi guru” jadi mereka tidak mau merusak alam, mereka tidak mau pemerintah melakukan pembangunan yang merusak alam karena itu guru mereka. Nah minangkabau salah satu provinsi dengan laju tutupan hutan paling kecil kerusakannya.
(ii) Kalau kebetulan kamu dari daerah modern
Ikuti konservasi modern. Ikuti data-data ilmiah. Ikuti gerakan-gerakn konservasi yang menuntun pemerintah agar lebih hijau. Ikuti apa saja seperti mengisi petisi, online campaign, dan tentunya green life style dari diri sendiri. Semakin banyak yang bergerak, semakin banyak tuntutan yang hijau, semoga pemerintah kita mau mendengarkan

Pertanyaan kelima (Alifah Ismiati_IAIN KUDUS)

Melihat daerah sekitar saya, pembangunan dilakukan dimana-dimana yang dulunya lahan perhutanan persawahan sekarang dibangun pabrik-pabrik industri, pembangunan tersebut pun pasti dengan persetujuan oleh pemerintah namun dampak bagi daerah tersebut sangat terasa karena minimnya pepohonan sebab minimnya lahan untuk ditanam. Jika seperti itu, mohon pendapat nya bagaimana seharusnya sikap kami sebagai penduduk daerah tersebut?

Jawab:

Sebenarnya kasus-kasus begini jamak ditemui di negara kita. Sangat disayangkan memang. Nah kalau sikap sebagai penduduk menurut pembicara tergantung masyarakatnya sendiri, krn tidak bisa dipungkiri sebagian masyarakat juga senang dengan kehadiran pabrik karena bisa menambah lapangan kerja dan akhirnya mereka mengganti pekerjaan dari petani menjadi buruh pabrik. Tentu ini juga kembali ke tingkat pengetahuan masing-masing juga. Kalau kebetulan, masyarakat di tempat Alifah memang tidak setuju, harusnya sudah ada info rencana kegiatan perubahan fungsi lahan. Kalau ada yang memang di luar dari itu, maka saran pembicara harus banyak kerja advokasi dengan pemerintah mencari solusi terbaik. Anak-anak muda tentu bisa berperan kuat untuk advokasi. Mungkin kalau alfiah tertarik belajar advokasi lingkungan, coba dicari tahu, menurut pembicara itu salah satu cara paling efektif untuk mendapat win win solution dengan pemerintah.

Pertanyaan keenam (Drabya Takesha _ Institut Français Indonésie Jakarta)

Seberapa optimiskah pembicara mengenai penerapan NCS di Indonesia, mengingat banyak dan rumitnya masalah politik, sosial, ekonomi negara kita ini (jumlah penduduk yang terus meningkat, gaya hidup overkonsumtif, elite2 politik dan kepolisian yg mempunyai banyak perusahaan tambang & kelapa sawit, dll)

Jawab:

Tentu pembicara harus jujur kalau pembicara memandang ini dengan dua sisi. Terkadang ketika melihat gerakan-gerakan hijau dan kerja-kerja teman-teman pegiat lingkungan, pembicara sangat optimis kalau kita bisa mengubah arah, memukul mundur krisis iklim ini, membangunkan pemerintah kita untuk mengadopsi ekonomi hijau. Apalagi ilmuwan sudah memberikan solusi, konsep energi terbarukan, konsep ekowisata, konsep hidup ramah lingkungan, konsep sustainable fashion. Hanya saja saya pesimis, kalau ternyata kita ini masih kekanak-kanakan dan nyaman dengan posisi kita sekarang. Sebenarnya, pertanyaan terkait dengan oligarki, elit-elit politik semuanya itu ada, kita harus kembali ke teori ekonomi, permintaan dan penawaran. Gaya hidup kita yang konsumtif telah membawa kita meminta sejuta permintaan kepada pebisnis melalui kebijakan elit politik. Kalau mau jujur tentu kita yang pertama harus berubah. Tapi disamping itu juga kita harus tetap advokasi pemerintah agar merubah arah kebijakan juga. Kalau saran pembicara yang optmis dan pesimis ini adalah “mari bergandeng tangan, bersatu bersama-sama memukul mundur krisis iklim dengan aksi pribadi dan aksi bersama, mari mengikuti solusi yang diberikan oleh ilmuwan.”

Pertanyaan ketujuh (Kiki_SMK Wikrama Bogor)

Saya salah satu perwakilan dari tingkat sekolah. Di sekolah kami sudah ikut memberi aksi nyata mengenai pennggulangan sampah dan climate change diantaranya hemat air dan energy. menurut pembicara, apakah yang bisa kami lakukan untuk ikut membantu dalam rangka mendukung kegiatan pelestarian hutan dan satwa?

Jawab:

Terkait satwa, menurut pembicara banyak hal yang bisa kalian lakukan, yang pertama adalah belajar banyak terkait keanekaragaman hayati yang kita punya. Kalau kata pepatah, tak kenal maka tak sayang kan. Nah kita juga harus begitu, sebelum menjaga mereka, kenali dulu. Bagimana cara mengenalinya? Kita bisa coba jajaki lembaga-lembaga yang potensial utk diajak kerjasama dengan sekolah/organisasi, misal osis dan pramuka di sekolah kiki bisa menjadi organisasi binaan Taman nasional gede pangrango, halimun salak atau ciremai. Kedua, ekowisata. kalau sekolah kiki ada kegiatan, coba berkunjung ke daerah-daerah ekowisata yang mendukung konservasi bukit lawang di sumatera misalnya, dengan berkunjung kesana sudah membantu masyarakat lokal dan menjauhkan mereka dari pekerjaan yang merusak hutan seperti ilegal loging dan perburuan hewan. Ketiga, buat organisasi/seremoni/kegiatan berbasis alam. Banyak sekali selebrasi dan peringatan yang bisa kita lakukan untuk menghargai bumi tempat kita berpijak ini. kiki dan teman-teman mungkin bisa menggarapnya, membuatnya jadi agenda rutin sekolah.

Pertanyaan kedelapan (Riyanti_Cilacap)

Kesuksesan banyaknya solusi yang dicanangkan berasal dari dukungan berbagai pihak. Bagaimana cara untuk merubah mindset seseorang tentang menjaga alam? Karena menjaga alam merupakan keharusan semua orang, tetapi tidak semua orang sadar lingkungan?

Jawab:

Merubah mindset mungkin adalah hal yang sangat sulit, tapi semua itu bisa kita lakukan. Sainis! Ilmu pengetahun sudah jelas mengatakan kerusakan iklim sejak puluhan tahun lalu, kalau kebetulan teman kamu mengenyam bangku pendidikan diatas SMA tunjukkan fakta-fakta ilmiah kepada dia. Kalau kebetulan temen kamu tidak terlalu mengerti fakta ilmiah, masuk dari perspektif agama, buka kembali ayat-ayat kitab suci yang mengulas dosa lingkungan, dosa-dosa yang kita lakukan terhadap ibu bumi kita. Kalau dia muslim, coba tunjukkan surah arrum ayat 41 atau surah al-ahzab. Kalau kebetulan dia katolik, suruh mengikuti ajaran Laudatosi’ yang dianjurkan Paus. Kalau kebetulan dia penghayat, tentu dia harus kembali ke alam.

Banyak sekali pendekatan-pendekatan yang bisa kita lakukan untuk memahami dan menyadarkan teman-teman akan krisis iklim sekarang ini. Teman-teman, 28.000 spesies terancam punah, itu artinya penghuni hutan dan alam kita akan hilang jika kita tidak bisa menghentikan krisis iklim ini. Itu artinya kita manusia (spesies baru yang datang ke bumi ini) telah menghilangkan ciptaan-ciptaan tuhan yang menghuni alam. Sudah ada solusi di depan mata kita, ilmuwan sudah memperingatkan dan memberi solusi, kini kita bisa menggunakan suara rakyat untuk meminta dan mengawasi pemerintah melakukan kebijakan-kebijakan yang hijau. Tentu kita juga perlu berkaca, apakah kita sudah terlalu nyaman hidup dengan mencederai lingkungan? Jika ya, mari berubah dengan gaya hidup ramah lingkungan, mari belajar kembali mencintai bumi, tempat kita satu-satunya, karena tidak ada planet B.