Webinar Lindungi Institute

Disampaikan oleh Hamid Arrum Harahap (Perwakilan Indonesia dalam UN Youth Climate Summit 2019)

Bulan lalu, sekitar 500 pemuda pegiat lingkungan dan iklim berkumpul di Markas besar PBB, New York untuk menghadiri KTT Iklim Pemuda pertama di Dunia. PBB mengundang pemuda dari seluruh dunia untuk mendengarkan keresahan dan kekhawatiran serta solusi yang mereka tawarkan, akan isu perubahan iklim yang menjadi masalah untuk seluruh warga bumi.

Kenapa perubahan iklim menjadi pembahasan yang sangat ramai sekarang ini? Dilansir dari situs ditjen.ppi “Perubahan Iklim adalah perubahan signifikan kepada iklim, suhu udara dan curah hujan mulai dari dasawarsa sampai jutaan tahun. Perubahan iklim terjadi karena meningkatnya konsentrasi gas karbon dioksida dan gas-gas lainnya di atmosfer yang menyebabkan efek gas rumah kaca. Peningkatan konsentrasi gas rumah kaca tersebut, disebabkan oleh berbagai kegiatan manusia seperti emisi bahan bakar fosil, perubahan fungsi lahan , limbah dan kegiatan-kegiatan industri”.

Selain itu menurut Laporan perubahan cuaca dan pemanasan global PBB mengungkap 2019 menjadi tahun ‘terpanas’ dalam periode lima tahun terakhir. Laporan PBB tersebut menuliskan rata-rata suhu global pada 2015-2019 berada dalam jalur ‘terpanas’. Dikutip dari AFP, iklim periode ini diperkirakan naik 1,1 derajat Celcius di atas era pra-industri (1850-1900) dan 0,2 derajat Celcius lebih hangat sejak 2011-2015. Empat tahun terakhir ini sudah menjadi terpanas sejak pencatatan iklim dan cuaca dimulai pada 1850.

Berdasarkan data kajian dari Bappenas (ICCSR, 2010) dan Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) pada tahun 2011: Di Indonesia, dampak perubahan iklim berdampak luas salah satunya sebagai negara kepulauan akan mengalami pengurangan total garis pantai disebabkan air laut naik. Gelombang badai (storm surge); pasar surut, serta varibialitas iklim ekstrem seperti La Nina yang termodulasi oleh kenaikan tinggi muka laut punya andil dan peran dalam penggenangan air laut di pesisir. Berikut tingkat risiko perubahan iklim menurut ICCSR Bappenas, 2010.

Apa Solusinya? Salah satu solusi perubahan iklim adalah Alam. Berdasarkan hasil riset para peneliti dari The Nature Conservancy (TNC) bersama 15 institusi lain menemukan, implementasi solusi iklim secara lengkap dapat mengurangi emisi hingga 86 persen Manajer Komunikasi TNC Indonesia, Jaka Setia merujuk ke hasil penelitian dari jurnal ilmiah
“Proceedings of the National Academy of Sciences” (PNAS), menyatakan, alam punya kemampuan mengurangi lebih dari sepertiga, atau 37 persen emisi gas rumah kaca dunia untuk mencegah pemanasan global ke tingkat yang lebih berbahaya.

Sementara di Indonesia, jika pemerintah mampu mempraktikkan secara lengkap solusi iklim alami atau Natural Climate Solution (NCS), maka emisi dapat berkurang hingga 86 persen. Untuk lebih mudah silahkan tonton video yang dijelaskan oleh aktivis Iklim, Greta Thunberg,dibawah ini:
https://www.conservation.org/video/nature-now-video-with-greta-thunberg

Melihat solusi berbasis alam dewasa ini Indonesia terkenal sebagai negara yang kaya akan biodiversiti. Dilansir dari situs WWF, Dengan luas hutan sekitar 109 juta hektar (2003), Indonesia adalah pemilik hutan hujan tropis terluas ke-3 di dunia, setelah Brasil dan Kongo. Tapi dari luasan hutan yang tersisa itu, hampir setengahnya terdegradasi. Namun tak banyak yang menyadari bahwa kekayaan hutan Indonesia tidaklah sebatas kayu. Keanekaragaman flora fauna ini sangat bermanfaat, diantaranya bagi industri farmasi/kerajinan, pariwisata, dan ilmu pengetahuan. Disamping itu, hutan juga menjaga fungsi tata air, penyerap dan penyimpan karbondioksida, serta sumber air bagi kebutuhan makhluk hidup.

Sejak tahun 1970 penggundulan hutan mulai marak di Indonesia. Pada tahun 1997-2000, laju kehilangan dan kerusakan hutan Indonesia mencapai 2,8 juta hektar/tahun. Saat ini diperkirakan luas hutan alam yang tersisa hanya 28%. Jika tidak segera dihentikan, maka hutan yang tersisa akan segera musnah. Sayangnya, laporan terbaru dari IUCN menyatakan bahwa 28.000 spesies terancam punah. Sayangnya, ada sekitar 294 jenis flora dan fauna Indonesia yang masuk dalam daftar spesies terancam punah. Sebagian di antaranya bahkan sudah masuk ke level kritis karena jumlahnya yang terus berkurang drastis dari tahun ke tahun. Sebagai contoh, orangutan Sumatera dan Kalimantan yang sama-sama terancam punah.

Menurut laporan International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), selama 75 tahun terakhir orangutan Sumatera mengalami penurunan populasi sebanyak 80%. Hal serupa juga dialami harimau Sumatera yang kini diperkirakan hanya tersisa 300-an ekor. Ekosistem di Indonesia yang dipenuhi dengan hutan hujan tropis, maupun garis pantai kita yang sangat panjang ditumbuhi oleh hutan-hutan bakau menjadi solusi berbasis alam untuk mengatasi perubahan iklim. Dibelahan dunia lain, semua sedang sibuk mencari tekhnologi dan penemuan-penemuan baru untuk mencegah dari dampak perubahan iklim ini sedangkan kita di Indonesia hanya perlu menjaga agar luas hutan kita tidak semakin berkurang, agar keanekaragaman hayati kita masih bertahan hingga anak cucu kita di masa depan, agar orangutan, harimau, gajah, badak masih bisa berkeliaran menjaga hutan agar tetap lestari agar bisa memberikan kita oksigen, air dan mencegah bencana bagi kehidupan kita di kota.

Kebakaran lahan menjadi salah satu permasalahan besar di Indonesia, hal ini dikarenakan banyaknya pembukaan lahan untuk berbagai kepentingan yang tidak berkelanjutan. Banyak penelitian yang menyebutkan bahwa cuaca ekstrim yang terjadi belakangan ini menjadi salah satu indikator yang memperparah kebakaran hutan dan lahan. Kebakaran hutan dan lahan tentunya juga memperparah karbon yang menumpuk di amosfir kita. Namun jika kita dapat mengatasi dan mengendalikan karhutla. Maka itu akan menjadi solusi berbasis alam dari kita untuk mengatasi pemanasan global.

Sudahkah kita serius menjaga solusi yang kita punya, untuk masa depan kita dan anak cucu? Hanya ada dua pilihan, Indonesia terkenal sebagai pahlawan karena mempunyai solusi berbasis alam yang sangat besar untuk memitigasi perubahan iklim, atau Indonesia dikenal karena gagal mempertahankan alamnya untuk memitigasi perubahan iklim.